Hadiah

Disadur dari BUKU UNTUK dibaca, karya Erick Namara.

Seorang yg terkenal kebajikannya meski masih muda, sedang berjalan-jalan pada suatu hari. Tiba-tiba saja, ada seseorang pemuda bertubuh tinggi dan besar menghadangnya. Pemuda itu tampak sangat marah.

“Hei,” bentaknya. “Kamu itu tidak berhak mengajari orang lain.”. Pemuda itu tidak menggunakan kata anda yg biasanya digunakan untuk menghormati orang yg diajaknya berbicara.

Pemuda itu terus meneriaki, mengejek, dan mencela orang yg terkenal bijak itu.

“Kamu ini sebenarnya sama saja bodohnya dengan orang lain. Kamu sok tahu! Ayoo.. Kalau berani kita berkelahi! Kalau kamu memang punya nyali!”

Orang yg ditantang tersenyum dan bertanya, “Teman, jika kamu memberi hadiah untuk seseorang, tapi seseorang itu tidak mengambilnya, siapakah pemilik hadiah itu?”.

Si pemuda terdiam dengan pertanyaan aneh itu. Lalu dia menjawab lantang, “Pertanyaan bodoh! Tentu saja! Hadiah itutetap menjadi milikku karena akulah yg memberikan hadiah itu.”

Lelaki bijak tersenyum. “Ya, kamu benar. Dan tadi kamu memberiku hadiah kemarahan, hinaan dan celaan. Aku tidak akan mengambilnya, tidak akan memasukkannya kedalam hati. Aku tidak merasa terhina, tidak merasa marah, tidak benci. Maka kemarahan dan hinaan itu pun kembali kepadamu. Benarkan? Aku tetap bahagia. Kalau kamu?”

Pemuda itu terdiam, mencoba mencerna semuanya.

Lelaki bijak itu pun melanjutkan. “Jika kamu ingin berhenti menyakiti diri sendiri, singkirkan kemarahan dan ubahlah menjadi cinta kasih. Ketika kamu membenci orang lain, dirimu sendiri tidak bahagia, bahkan tersakiti secara alami. Tetapi ketika kamu mencintai orang lain, semua orang menjadi bahagia.”

Kemarahan, kebencian dan keputusasaan akan terjadi jika kita mengizinkannya. Kita mengizinkan kata-kata orang masuk ke hati kita, pikiran, mempengaruhi kita. Padahal kita bisa saja tidak menerima aemua perkataan​​ itu dan bersikap tidak peduli. Berbahagia tanpa harus dipengaruhi kata orang yg berusaha merusak kebahagiaan kita.

Kereta

Seorang pemuda yg usianya sekitar 24 tahun sedang bersama ayahnya di sebuah kereta. Dia terlihat bahagia melihat pemandangan dari jendela.

“Ayah, coba lihat, pohon-pohon itu… Mereka berjalan menyusul kita.”

Cr: to the owner

Untuk pemuda seusianya, itu terlihat norak bagi penumpang lainnya.

Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yg tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagia mendengar celoteh putranya itu.

Di samping pemuda itu ada sepasang suami istri yg mengamati pemuda yg kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak. “Ayah, lihat itu, itu awan kan? Lihat… Mereka ikut berjalan bersama kita juga..”

Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaannya. Sepasang suami istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu, “Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke psikiater?”

Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu dia pun menjawab, “Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan sejak lahir. Tadi dia baru dioperasi, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya.”

Pasangan suami istri itu pun terdiam.

Paham kan? Tidak semua hal seperti apa yg kita lihat dan pikirkan. Tidak semuanya kita pahami. Kita mungkin mengira orang lain itu buruk, gila, jahat, dan lainnya. Padahal belum tentu begitu adanya. Setidaknya, berikan mereka kesempatan untuk menjelaskan sebelum kita menuduh mereka macam-macam.